Thursday, February 7, 2013

Sebuah Botol Tanda Cinta Tak Terungkap


Panas terik matahari, diiringi dengan hembusan angin dan suara kendaraan yang lalu lalang, menciptakan polusi udara, membuat langkah kaki ini terus bersemangat untuk maju. Beberapa orang melewati terotoar seperti diriku yang sedang mencari sebuah ketenangan dalam jiwa maupun sanubariku. Perjalanan yang kulalui diliputi dengan berjuta perasaan yang tak akan mampu untuk ku tulis dalam sebuah ungkapan, karena rasa yang ku alami sudah sangat sakit hingga aku harus merasakan pahitnya cinta. Aku sadar aku bukanlah orang yang sempurna seperti yang diinginkannya, namun aku memiliki rasa kasih sayang yang akan ku berikan bagi orang yang aku sayangi. Kehidupan memang tak selamanya berjalanan sesuai keinginan, itulah tantangan sebuah kehidupan yang memberikan begitu banyak pelajaran yang dapat diambil. Aku seorang pelajar yang saat ini duduk di bangku SMA tepatnya kelas XII IPA. Namaku Eliza Rahma. Teman-teman biasa memanggilku dengan panggilan Liza. Aku bersekolah di sebuah sekolah negeri yaitu SMA Harapan Bangsa. Dimana letak sekolahku sangat strategis dengan hal yang biasa aku lakukan di sekolah setiap bel istirahat berbunyi.

            “ Hai..Liza kamu dari mana aja?” tanya salah seorang sahabatku yang bernama Dinda.

            “Hai..Dind aku habis dari belakang sekolah” jawabku

            “Pasti kamu ke danau ya?” tanya Dinda penasaran.

            “Iya nih...” sambil mengambil sebuah kertas.

            “Pasti kamu ngelakuin hal yang gak jelas, hmm itu memang kebiasanmu yang menyendiri setiap bel sekolah berbunyi” tambah Dinda, dengan wajah penasaran.

            “Itulah aku, kegemaranku kan memang kesana Dind” sahutku mengakhiri, percakapan saat bel berbunyi.

            Hari ini kulalui dengan perasaan tak menentu, membuatku mengingat kenangan masa lalu yang tak akan pernah ku lupa, mungkin saja ini akan menjadi kenangan dan entah kapan kenangan ini akan ku hapus dalam benakku. Setelah aku pindah sekolah sejak kelas X, aku tak mengetahui akan kabar darinya, rasanya hati ini pilu dan luluh lantah tanpa menatap wajahnya tanpa mendengar suaranya. Mata ini tak lagi mampu melihatnya dari kejauhan, senyuman ini tak lagi ada, ketika ku tak melihatnya bercanda dengan teman-teman kelasnya. Aku menyukai seorang cowok, dia adalah cowok satu angkatanku. Kami memang tidak sekelas namun kami sering bertemu ketika bel istirahat berbunyi, hanya aku yang mampu melihatnya karena dia tak mengetahuiku. Aku tak tau siapa nama lelaki yang sering kulihat ketika istirahat. Saat aku SMP aku memang bersekolah yang berbasis Islam sehingga kelas antara putra dan putri dipisah. Kami tak saling kenal, saat aku kelas VII, perasaan ini telah muncul. Namun tak ada seorang pun yang tahu tentang hal ini, dan hanya aku dan Tuhan yang tahu akan semuanya.

            Beberapa bulan kemudian, aku mengetahui nama lelaki itu dari sebuah buku tugas Matematika, kebetulan saat itu guruku menyuruhku untuk memberikan buku itu kepada anak kelas VII B yang bernama Rizal Pahlevi. Dari sanalah aku mengetahui nama lelaki yang aku suka. Hari-hari kulalui dengan penuh semangat, ketika bel berbunyi hal yang tak pernah kulupa adalah memandanginya dari kejauhan dan menulis sebuah puisi untuknya, hal yang biasa ku lakukan setelah menulis, kumasukan puisi itu kedalam sebuah botol, kemudian kubawa pulang puisi itu. Ketika sampai dirumah, bergegas ku pergi menuju tempat berlabuh yaitu pantai yang berada tepat di samping rumahku. Dan kuarungi botol itu, dengan harapan akan dapat melepas beban yang selama ini kupendam. Itu adalah hal yang rutin kulakukan hampir setiap hari. Aku tau aku bukanlah orang yang sempurna yang tak pantas untuk dicintai olehnya, aku merasa diriku hanya sebuah ampas kotoran yang hanya dapat merusak ke populeranya di sekolah. Aku Liza anak yang memiliki postur tubuh tidak ideal dan memiliki wajah yang tidak secantik anak yang lain. Terkadang aku merasa minder jika harus pergi ke kantin dan berjalan di depannya, hal itu membuatku tak percaya diri. Jangankan ia menegurku hanya sekedar menoleh ke arahku pun ia tak pernah. Hal ini sangat memberikan kesedihan yang teramat dalam. Mungkin aku memang tak pantas untuknya, hanya itu saja kata-kata yang sering ku ucapkan dalam hatiku.

            Hingga pada suatu hari, saat aku SMP, sekolahku mengadakan program belajar selama 3 bulan ke Pare untuk memperdalam bahasa inggris. Program ini sangat disambut antusias oleh banyak siswa-siswi. Dan salah satunya aku, aku mengikuti program ini. Disinilah kejadian yang tak terduga mulai bermunculan, awalnya saat kami pergi bersama, antara putra dan putri di pisah namun seiring berjalannya waktu program les kita digabung antara putra dan putri. Dan kebetulan saat itu aku sekelas dengan Rizal Pahlevi. Sungguh bahagia rasanya dapat sekelas dengan lelaki yang sudah mengisi hatiku selama satu tahun ini. Sesuatu yang tak terduga terjadi dalam hidupku, ia mengajakku untuk satu kelompok dengannya ketika pelajaran speaking dan saat itu tutor yang mengajarku meminta agar aku dan dia membuat sebuah conversation mengenai sebuah percintaan. Seketika itu juga jantungku terasa terhenti dan tak mampu untuk berdegub kembali, aku masih tak percaya dengan hal yang terjadi saat itu. Namun aku yakin itu hanya sebuah khayalan yang tak akan pernah dapat terwujud. Satu ungkapan yang kuingat pada conversation itu “Can you give me your heart for me?”  . Hanya itu ungkapan yang saat itu kuingat, betapa bahagia hatiku ketika seorang yang aku cintai mengatakan hal itu padaku. Namun lamunanku akan sebuah keinginanku sirna seketika, ketika ku ingat bahwa itu hanya sebuah conversation yang hanya sebuah tugas dari seorang tutor. Teman-temanku saat itu mengejekku, mereka mengatakan bahwa aku bukanlah orang yang pantas untuk memiliki Rizal. Pada akhirnya aku merenungi akan sebuah kesalahan besar yang telah ku pilih, aku memilih untuk mencintai orang yang salah. Namun aku tak dapat mengelak rasa yang telah diberikan oleh Tuhan. Dalam sebuah puisiku kubuat dalam lamunanku saat malam tiba sambil menatap bintang.

Tuhan..

Apakah ini jalan hidupku

Mencintai seseorang namun tak dicintai

Menyayangi seseorang namun tak dihiraukan

Mengasihi seseorang namun tak di kasihi

                        Tuhan..

                        Sampai kapan rasa ini kan bertahan

                        Ketika ragaku tak lagi ada

                        Ketika jiwaku tlah jauh melayang

                        Ketika kehidupan ini berakhir

Tuhan..

Aku bukanlah manusia sempurna

Aku tak pantas untuknya

Aku hanya sebuah bom atom yang dapat meledaknya

Aku hanya sebuah granat yang dapat menghancurkanya

                        Tuhan

                        Hapuslah rasa ini, jika memang ini yang akan menyiksaku

                        Biarlah ini hanya sebuah cinta yang tak akan pernah terucap

 

            Kenangan selama berbulan bulan bersamanya, memberikan bekas yang tak akan pernah hilang dalam ingatanku. Rizal memang sosok yang sempurna bagiku. Dia laki-laki yang pintar, baik dan tidak merendahkan orang lain. Namun aku tak yakin jika ia mampu untuk mencintaiku. Hingga pada suatu hari aku bertemu dengannya dan kami jalan-jalan pagi berdua. Aku memandanginya, dengan penuh harapan dan ia hanya bercerita-cerita akan dirinya. Kami pun terus berjalan menyusuri jalanan pagi itu yang dilengkapi dengan tatanan desa yang sangat sejuk dan menyenangkan. Hingga waktunya tiba, aku bercerita dengannya, bahwa aku menyukai seseorang. Namun ia tidak begitu peduli dengan apa yang ku katakan. Hari-hari terus berlalu, hingga saatnya kami harus meninggalkan desa itu. Untuk kembali ke Semarang. Karena memang kami berasal dari Semarang.

            Sesampainya di Semarang, aku dan Rizal semakin menjadi sahabat yang dekat, namun rasa ini semakin besar. Setelah kami lulus SMP, Rizal memilih untuk tetap melanjutkan sekolah ke Aliyah dengan sekolah yang sama. Namun lain halnya dengan diriku yang memilih untuk pindah sekolah karena aku telah merasa bosan dengan keadaan disana. Kemudian aku memutuskan untuk pindah sekolah dan memilih mencari sekolah negeri karena semenjak aku di Pare, aku tidak dapat mengirimkan botol ini ke lautan. Saatnya tiba, aku harus merelakan kepergianku dari sekolah yang telah banyak memberikan kenangan. Hingga aku memilih masuk sekolah negeri yang ada di Semarang. SMA Harapan Bangsa adalah pilihanku.

            Hari-hari kulalui di SMA yang baru, salah satunya aku memiliki teman dekat yang bernama Dinda, dan masih banyak teman-teman baruku di SMA ini. Namun rasaku pada Rizal tidak akan pernah pudar, teman-teman kelasku sudah mengetahui akan perasaanku kepada Rizal. Dinda memberi solusi agar aku, mengungkapkan rasa kepada Rizal, namun aku selalu menolak karena aku tak ingin menjadi wanita pertama yang mengungkapkan rasa kepada seorang lelaki. Namun teman-teman kelasku memaksaku, dan mengancamku jika aku tidak melakukannya maka mereka yang akan memberi tau Rizal akan apa yang kurasakan selama ini. Aku tidak ingin jika Rizal mengetahui hal ini dari orang lain.

            Malam itu, kukumpukan sebuah keberanian yang luar biasa. Keberanian itu yang akan ku keluarkan untuk jujur kepada Rizal akan perasaanku yang sesungguhnya. Aku tak mengerti harus mengungkapkan dari mana, ketika ku tau hal ini sangat sulit. Namun perasaan ini tak selamanya aku pendam, aku berfikir bahwa aku harus segera mengungkapkanya. Aku sengaja mengungkapkan perasaan ini, dalam artian aku tidak menembaknya akan tetapi aku merasakan hati yang kosong dan tanpa beban. Malam itu tepat tanggal 23 Oktober tahun 2011 aku mengirim pesan kepadanya.

To : Rizal ( My Secret Admirer )

Rizal, maafkan aku bukan maksudku untuk menghianati persahabatn kita,

       Namun rasa ini tak mampu ku pendam hingga bertahun-tahun lamanya.

       Sejak pertama kali aku melihatmu perasaan ini telah berbeda.

       Aku menyukaimu melebihi sebatas persahabatan,

       Namun aku tak berharap kau akan membalasnya.

       Aku hanya sengaja mengungkapkan ini agar hatiku menjadi tenang.

      Maafkan aku, jika hal ini membuatmu marah atau benci padaku.

Jika kamu gak bales sms ini, berarti ini adalah smsku yang terakhir kalinya.

           

Dalam diam dan bisu aku menunggu balasan sms darinya, namun tak kunjung ada sms yang masuk. Perasaanku mulai gelisah dan resah, “mungkinkinkah ia tidak membalas?, itu artinya ini adalah sms terakhir untuknya” gerutuku dalam hati. Aku tak sanggup jika tidak mengetahui akan kabarnya. Namun beberapa menit kemudian sms itu datang, Rizal mengatakan.

From : Rizal ( My Secret Admirer)

You’re my friendship forever and after

 

            Betapa terkejutnya hati ini, ketika melihat balasan sms darinya yang sesingkat itu. Seketika itu juga tetesan air mata menjatuhi buku yang sedang kubaca, berharap sms itu akan memberikan jawaban yang terbaik, namun hanya itu yang ia jawab. Sungguh ini membuat hatiku pilu dan merasakan sakitnya luar biasa. Aku sadar bahwa ia hanya menganggapku sebatas sahabat. Hal ini membuatku semakin terpuruk ketika sms itu mengatakan bahwa aku hanya sebagai sahabatnya sampai kapan pun. Menyakitkan, memilukan. Segera kutulis puisi dalam buku diary ku .

Patah Hati

Bintang memancarkan sinarnya dalam kegelapan

Membawaku termenung dalam sebuah kenangan

Kenangan dilapisi sebuah air mata

Sendiri dalam renungan hati

                                    Kali ini terasa terpuruk

                                    Mencari kebahagiaan namun tak kunjung ada

                                    Membuatku semakin depresi

                                    Hingga akhirnya ku pun terjebak

Patah Hati...

Membawaku kedalam sakit hati

Menjatuhkan berjuta kesedihan

Tak ingin merasakanya

Namun inilah takdir hidupku

                                    Patah Hati ...

                                    Sakit Hati, lain kali hati-hati sama hati

 

            Kejadian ini memutuskan ku untuk harus melupakanya, aku harus melupakan semua kenangan tentangnya. Aku mulai beresolusi, resolusiku saat itu aku harus mampu untuk melupaknya dan berjanji tak akan menemuinya lagi. Hingga pada saat dimana hati ini telah sembuh dalam kesedihan yang teramat dalam.

            Hari-hari telah kulalui dengan semangat baru, namun entah mengapa bayangan dirinya selalu ada dalam benakku. Hingga ku selalu menulis puisi dan surat yang akan ku kirim untuk lautan, agar lautan tau betapa aku mencintainya dengan tulus hati. Tiba-tiba saja ketika di sekolah.

“ Woyy.. apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Dinda sahabatku

“Gak..ada Dind aku tak memikirkan apa-apa” jawabku dengan mata sedikit sayu.

“Sudahlah Liza, kamu tak usah membohongi perasaanmu, sebenarnya ada apa?” tanyanya penasaran.

“Rizal hanya menganggapku sebagai sahabatnya sampai kapan pun” sahutku dengan wajah kesedihan.

“Oh..oke kalau begitu kamu harus melupakanya, jangan ingat-ingat dia lagi” Dinda meyakiniku.

“Memang itu yang sedang kulakukan”

            Aku pun segera beranjak pergi dan menuju ke kantin, namun di perjalanan aku bertemu dengan seseorang yang tak asing lagi wajah dan penampilannya. Sungguh tak bisa kubayangkan, ternyata lelaki yang duduk di kantin itu adalah Rizal Pahlevi. Cowok yang selama ini membuat hatiku merasa terpuruk karena memendam rasa kepadanya. Dan yang tak kusangka ternyata ia pindah ke sekolah yang sama denganku, hal ini membuatku semakin depresi ketika melihatnya duduk berdua dengan seorang ratu sekolah. Segera kutulis sebuah puisi yang akan kukirimkan ke danau belakang sekolah.

Secret Admirer

Kudiam tanpa kata
Melihat dirimu dari kejauhan
Ragaku selalu ada untukmu
Walaupun ku tau kau tak akan pernah bersamaku

                                     Keinginanku hanya khayalan belaka

                Yang tak pernah ku tau kapan rasa ini kan usai

                                     Wajahmu selalu ada dalam benakku

                Seolah memberikan cerita baru dalam hidup ini

 

 

Kenangan indah bersamamu takkan kulupakan

Walapun ku tau kau telah melupakannya

Senyumanmu memberikan ketenangan dalam jiwa

Tawamu membuat hati ini gembira

 

Cerita ini kan kuukir dalam sebuah batu sanubari

Ku tau kau akan bahagia bersamanya                

Biarlah hanya diriku yang merasakan pahitnya ini

Kebahagianmu adalah kebahagiaanku pula          

 

Tetaplah ada dalam hatiku

Sampai raga ini tak lagi utuh 

Dan menjadi my Secret Admirer...

 

            Segera kulangkahkan kaki ini menuju danau yang terletak di belakang sekolah, kemudian kuhempaskan botol yang telah berisi puisi ini. Aku berharap danau mengetahui akan hancurnya diriku saat ini. Segera ku kembali ke kelas dan kucari Dinda.

“Dinda...kamu tau gak?” tanyaku ngos-ngosan

“Tau apa?, kamu kenapa nyari aku aja sampai ngos-ngosan segala!” sahut Dinda

“Tau.. Rizal pindah ke sekolah ini, barusan aku lihat dia duduk sama ratu sekolah” jawabku dengan lantang.

“Serius kamu? Gak becanda kan?” dengan tampang tak percaya

“Iya..serius Dind masak aku mau bohong sama kamu”

“Wah...ini situasi yang rumit, disaat kamu mau lupain dia,eh dia malah muncul apa-apa sih dia mau cari gara-gara apa?” Tampang Dinda sinis

“Udahlah Dind gak papa kok, nyatai aja aku bisa lupain dia” sahutku

“Gak mungkin Liza, kamu itu susah banget buat lupain dia”

“Bisa kok, percaya deh, aku mau ke perpus dulu ya” jawabku

Segera ku bergegas menuju perpustakaan yang letaknya tak jauh dari kelasku, sambil membawa sebuah buku catatan dan sebuah pensil. Sesampainya di perpustakaan kucari sebuah buku mengenai pelajaran yang akan dibahas besok. Tiba-tiba saja.

“Hai..Liza kamu ngapain disini?” tanya seseorang yang tak lain adalah Rizal Pahlevi.

“Hhhh..cari buku, kok kamu ada disini?” tanyaku dengan gugup

“Iya..aku udah bosen di sekolah dulu, makanya pindah kesini, kamu kaget ya?” sambil senyum dengan lekukan pipi

“Iii..ya” jawabku gagap

“Kok..jawaban kamu kayak orang ketakutan aja”

“enggak kok, aku mau kesana dulu permisi”

“Oiya..hati-hati ya” sahut Rizal

 

Namun sebelum kumencari buku yang ingin kucari. Aku menulis sebuah coretan dalam catatan yang kubawa.

 

Hai selamat bertemu lagi. Aku sudah lama menghindarimu.

Sialkulah kau ada disini sungguh tak mudah bagiku.

Rasanya tak ingin bernafas lagi. Tegak berdiri didepanmu kini.

Sakitnya menusuki jantung ini. Melawan cinta yang ada di hati.

Dan upayaku tahu diri.

Tak selamanya berhasil pabila kau muncul terus begini.

           Tanpa pernah kita bisa bersama. Pergilah menghilang sajalah lagi.

 

            Dengan segenap perasaan tulus yang ada dalam hatiku ku ungkapkan dalam sebuah tulisan, hingga ku tak tau kapan rasa ini kan berakhir untuk mencintainya. Semua cara telah ku lakukan namun mengapa ia muncul lagi dalam kehidupanku, aku tak ingin, aku tak mampu jika harus melihatnya lagi. Memendam rasa yang sangat pilu membuat hati ini sakit mersakan cinta yang tak terbalas.

            Kuambil buku yang ingin kubaca, dengan maksud dapat melupakan kenangan-kenangan yang telah lalu. Tiba-tiba saja Rizal datang.

            “Liza..khusuk sekali baca bukunya..”

            “Eh..Rizal, kok kamu ada disini lagi sih!” sahutku cetus

            “Emangnya kenapa?” tanyanya

            “Gak ada sih, soalnya tadi kan kamu ada di depan kok tiba-tiba ada    disini?”

            “Iya..aku mau cari kamu” jawabnya

            “Untuk apa cari aku?” tanyaku penasaran

            “Aku mau kasih tau kamu, kalau aku sekolah disini untuk beberapa hari saja, soalnya orang tuaku pindah tugas di USA”

            “Jadi, maksud kamu, kamu mau pindah juga kesana?” tambahku penasaran

            “Iya, pastinya. Gak papa kan?” tanyanya

            “Kok, kamu tanya ke aku gak papa sih?, kan aku bukan siapa-siapa kamu!” jawabku ketus, tersa pilu hati ini mendengar ucapanya.

            “Kan kamu sahabatku Liza” jawabnya

            “Oh..gitu iya gak papa, hati-hati ya disana semoga sukses” tanganya yang tadi menulis seketika itu terhenti.

            “Makasih ya, kamu juga hati-hati disini. Semoga apa yang kamu inginkan tercapai”

            “Iya..Amin”

           

            Suasana perpustakaan saat itu seolah memberikan saksi, dengan kata terakhir dari Rizal, memberikan kesedihan yang terdalam bagiku. Sebenarnya aku menginginkannya. Namun rasa ini tak mungkin dapat terwujud. Hari itu seolah langit-langit perpustakaan menjadi saksi akan percakapan saat itu. Sungguh bermakna dalam namun menyakitkan. Dengan Rizal pindah ke USA maka aku tak mampu lagi melihat wajahnya, meskipun awalnya itu yang kuinginkan.

            Beberapa hari kemudian, waktu itu tiba  ketika Rizal ingin meninggalkan Indonesia dan pindah ke USA. Rizal pamitan kepadaku dan itu sungguh menyedihkan. Ia datang ke kelasku kemudian memanggilku. Aku pun segera keluar kelas.

            “Liza, aku berangkat dulu ya, aku mau pamitan sama kamu”  

            “Iya..zal kamu hati-hati disana ya, sepertinya aku akan merindukanmu” sahutku

            “Iya..Liza kamu juga hati-hati disini ya, percayalah suatu hari nanti kamu akan mendapatkan lelaki impianmu” jawab Rizal

            “hmm..mungkin saja” sambil menundukan kepala.

            “Sebelum aku pergi ini ada sesuatu buat kamu, tapi nanti dibaca kalau aku sudah sampai USA” sambil menyerahkan kotak warna pink

            “Wah..apaan nihh?” tanyaku penasaran

“Nanti saja dibuka, aku pergi dulu ya” kata terakhir Rizal, sambil melambaikan tangan.

Segera kumasuki kelas, dan kutorehkan penaku dalam sebuah buku catatanku.

 

Bye, selamat berpisah lagi. Meski masih ingin memandangimu.

Lebih baik kau tiada disini, sulit bagiku menghentikan segala khayalan gila

jika kau ada dan ku cuma bisa meradang menjadi yang disisimu membenci nasibku yang tak berubah.

 

            Kutulis pada sebuah buku catatan, tiba-tiba saja kuingat akan kotak pink yang diberika  oleh Rizal kepadaku. Segera kubuka, betapa terkejutnya diriku. Ketika melihat isi kotak itu, disana isi fotoku dan rizal sewaktu di Pare dan disana ada sebuah gelang yang bertuliskan “Friendship Forever”. Muncul perasaan haru ketika melihat apa yang diberikan Rizal kepadaku. Kemudian kulirik sepucuk surat yang berada di sebelah kanan kotak. Kubaca surat itu.

 

Dear to my Eliza Rahma

            Dalam gemerlap cahaya bintang kutulis surat ini untukmu. Wajahmu terkadang memberikan kerinduan yang terdalam. Kebaikanmu memancarkan sinar hatimu yang sesungguhnya. Bola matamu menunjukan sebuah kejujuran. Senyummu memberikan kedamaian dalam jiwa dan sanubariku.

Eliza...

Mungkin kamu tak akan pernah tau, mengapa aku selalu menganggapmu sebagai seorang sahabat. Aku hanyalah lelaki yang tak ingin meilhat kesedihan pada suatu hari kelak yang akan terjadi padamu.

Eliza..

Sebenarnya aku sayang padamu, aku juga cinta padamu. Namun kita tak akan pernah bisa bersatu. Bukankah terkadang cinta tak harus memiliki?

Bukankah kasih sayang tak perlu dibuktikkan?

Kamu adalah wanita terindah yang pernah kutemui

Kamu tak mengetahui alasan mengapa aku, tidak menembakmu

Eliza...

Sebenarnya aku pindah ke USA bukan karena orang tuaku yang pindah kerja

Itu karena aku menderita Leukimia dan aku harus mencari donor sumsung tulang belakang, dan pendonornya tinggal di luar negeri.

Maafkan aku Eliza telah membuat kecewa, walaupun begitu

Percayalah kau akan ku kenang di hatiku selamanya hingga jiwa raga ini tak lagi utuh, tataplah cahaya hatimu maka kau akan menemukanku di dalam sana.

 

Salam

 

Rizal Pahlevi

           

Seketika itu juga tetesan demi tetesan air mata tak dapat kubendung lagi, begitu mulianya hati Rizal. Sungguh aku tak akan pernah menyangka dia akan mengatakan hal yang seperti ini. Biarlah surat dan botol akan menjadi saksi bisu dalam sebuah perjalanan cinta. Walaupun cinta itu tak terbalaskan, namun dengan ketulusan maka cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Kulalui hari-hariku dengan semangat baru, karena aku yakin Rizal masih tersimpan dalam lubuk hati yang terdalam.

           

Sunday, February 3, 2013

WUJUDKAN GENERASI MUDA BEBAS ROKOK


Pada zaman sekarang ini, banyak sekali kita melihat permasalahan yang terjadi di Indonesia, salah satunya yaitu banyaknya generasi muda yang telah mengkonsumsi rokok, hal ini yang nantinya akan berdampak buruk bagi kesehatan para remaja. Sebenarnya yang harus berperan dalam hal ini yakni kita semua, bagaimana cara kita untuk mampu menolong remaja yang sudah terlanjur menjadi pecandu rokok. Dimana kita dapat melihat sendiri, dampak-dampak yang akan ditimbulkan ketika sudah menjadi pecandu rokok. Dengan berbagai macam penyakit, mungkin penyakit itu tidak dirasakan pada masa muda, namun hal itu akan terjadi ketika masa tua itu telah menimpa kita. Banyak sekali orang-orang yang telah mengetahui akibat dari mengkonsumsi rokok, namun terkadang kita bingung mengapa orang-orang itu tidak berhenti merokok padahal ia mengetahui akibatnya. Ini sebenarnya kandungan zat yang terdapat dalam rokok yang membuat konsumen ketagihan. Merokok sudah menjadi cerita lampau bagi Indonesia yang berawal dari luar negeri yang memasok tembakau hingga ke negara kita Indonesia, karena disana merokok sudah tidak diperbolehkan lagi, maka produsen mencari negara yang sanggup untuk menampung bisnisnya, sehingga akan menimbulkan keuntungan bagi personal/perusahaan. Saya sangats sedih sekali, ketika melihat film dokumenter yang dibuat oleh orang luar negeri dengan mengambil objek orang indonesia, terlebih lagi anak kecil yang usianya masih terbilang belia untuk mencoba rokok. Ini yang membuat hati saya tergugah ketika melihat tayangan film ini.

Sudah terlalu banyak generasi muda yang telah terjerumus ke dalam dunia rokok. Terkadang saya merasa bingung, ketika saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menasehati orang-orang terdekat saya agar mereka tidak merokok tapi tidak ada satu pun yang menghiraukan perkataan saya. Saya hanya menginginkan bahwa Indonesia terbebas dari bahaya rokok, yang mengakibatkan kematian. Sudah banyak angka kematian di Indonesia akibat rokok. Generasi muda lah yang harus mampu berperan dalam pemberantasan rokok di Indonesia. Karena tidak mungkin jika hanya 100 orang pemuda yang menginginkan Indonesia bebas rokok, namun 1000 orang sebagai pecandu rokok. Harus ada kesadaran dalam diri sendiri untuk dapat memberantas mengkonsumsi rokok, para produsen mendapatkan keuntungan sedangkan konsumen yang merasakan penderitaan yang datang pada nantinya. Ini tidak dapat dibiarkan, kita sebagai generasi penerus bangsa harus mampu untuk mencegah pengguna rokok bagi remaja, tidak hanya remaja bahkan semua orang. Agar mereka terhindar dari penyakit-penyakit yang tidak dinginkan.

Begitu banyak anak SMP maupun SMA terlebih lagi mahasiswa yang banyak mengkonsumsi rokok. Tidak hanya itu bahkan anak kecil pun mengkonsumsi rokok, sebenarnya ini harus butuh pengawasan dari orang tua. Jika bukan kita yang mencegah lalu siapa lagi yang akan menjadi korbanya??. Bukankah sudah banyak korban yang dimakan akibat rokok. Ironis sekali kisah yang terdapat dalam video ini. Setidaknya ini dapat menjadi pelajaran bagi kita generasi muda yang masih peduli dengan nasib bangsa ini. Ayo....gerakan semangat generasi muda yang bebas rokok..ciptakan Indonesia bebas rokok..!!.
 
for watching video
 
ada problem makanya gak ditaruh di blog

Goresan Hati Yang Menjadi Kebahagiaan


“Teman yang terhasut arus waktu

Mekar mendewasa, masih kusimpan suara tawa kita

Kembalilah sahabat lawasku semarakan keheningan lubuk

Hingga masih bisa kurangkul kalian

Sosok yang mengalir ricauan hidupku

Bilakah kita menangis bersama, tegar melawan tempaan semangatmu itu”

Potongan lagu Lembayung Bali yang dinyanyikan oleh Saras Dewi, penyanyi asal Indonesia. Mengingatkanku tentang sebuah persahabatan, dimana seorang sahabat selalu ada dalam setiap suka maupun duka. Seperti kejadian dua tahun silam, yang membuat diriku diselubungi oleh berbagai macam persoalan yang menurutku persoalan yang sangat sulit untuk dipecahkan, hal ini yang membuatku ingin menceritakan pengalaman pahit yang pernah kualami dalam hidupku. Keinginanku sangatlah besar untuk dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di Universitas AL-Azhar tepatnya di Kairo, akhirnya ibuku pun menyuruhku untuk bersekolah di sebuah Pondok Pesantren yang terletak di dekat tempat tinggalku yaitu di Pondok Pesantren Kediri Lombok Barat. Ketika aku telah menjadi seorang santriwati dan mendapatkan teman-teman yang begitu banyak dari berbagai macam daerah serta pengalaman yang begitu berarti dan tak akan pernah kulupakan. Hingga aku memiliki sahabat yang begitu baik, mereka ada disaat suka maupun duka, hari demi hari kulewati dengan perasaan bahagia, bahagia karena mendapatkan seorang sahabat yang selalu ada dikala susah maupun senang. Kebetulan Pondok Pesantrenku terbilang Pondok Pesantren yang dapat mencetak prestasi-prestasi yang gemilang baik dari santriwan maupun santriwati oleh karena itu aku sangat bersemangat bersekolah di Pondok Pesantren tersebut, dan hal tersebut yang membuatku bertahan di Pondok Pesantren.

Setiap hari aku dan sahabat-sahabatku menjalani kehidupan Pesantren yang sangat disiplin, dan sangat memberikan pembelajaran yang melatih keterampilan serta kecerdasan dan ketahan fisik untuk terus semangat dalam belajar. Aku dan teman-temanku menjalani kehidupan dengan sangat bahagia walaupun terkadang kami memiliki pendapat yang berbeda-beda, tetapi hal itu tidak membuat kami terpisah. Teringat dalam benakku ketika kami tertawa bersama, bercanda hingga kami menangis bersama, dan berjuang bersama sama untuk menghadapi Ujian Nasional 2009 pada saat itu aku masih Tsanawiyah atau setingkat dengan SMP. Ketika Ujian Nasional akan berlangsung kami belajar dengan sangat bersemangat berharap lulus dengan nilai yang memuaskan. Kami belajar hingga larut malam, seperti biasanya musholla adalah tempat andalan kami para santriwati untuk belajar  bersama, sampai pada akhirnya kami telah selesai menghadapi Ujian Nasional dan akhirnya lulus dan akan melanjutkan ke tingkat Aliyah atau SMA. Tetapi didalam Pondok Pesantrenku semua santriwan maupun santriwati harus dapat menyelesaikan sekolah hingga 6 tahun dimulai dari Tsanawiyah hingga selesai Aliyah, teringat tentang keinginanku untuk melanjutkan sekolah di Kairo. Hal tersebut yang membuat tetap semangat, untuk bertahan bersekolah di Pondok Pesantren tersebut.

Ketika aku telah lulus dan menjadi santriwati Aliyah atau setingkat SMA, disanalah cobaan demi cobaan menimpa diriku, yang terkadang membuat diriku tak sanggup untuk melewati itu semua. Keinginanku untuk mengikuti berbagai macam mata lomba yang diadakan diluar sekolah, terhalang oleh adanya peraturan yang telah ditentukan di sekolah itu, aku menyadari bahwa aku bukanlah orang yang pantas untuk mengikuti lomba tersebut, karena di Pesantrenku itu masih banyak orang-orang yang lebih baik dibanding diriku. Rasa kecewa, sedih sering aku alami, ketika suatu hari guruku hanya memilih orang-orang yang menurutnya pantas untuk mengikuti lomba tersebut. Ketika itu guruku berkata “ Yang mendapat juara 1,2,3 ikut olimpiade MIPA” kemudian teman-temanku yang sudah terpilih mereka sangat bahagia. Terbesit dalam benakku, kapan aku bisa seperti mereka terpilih untuk mengikuti lomba, sedangkan jika aku mengusulkan ingin mengikuti lomba diluar sekolah, itu akan melanggar peraturan yang telah ditetapkan Pesantren.

Sore hari, langit yang cerah dilengkapi matahari yang akan tenggelam aku duduk dibawah pohon jambu di lantai dua, dengan kursi yang begitu rapuh termakan usia. Membayangkan  diriku kelak dapat seperti teman-temanku yang mendapat juara. Terkadang aku merasa sangat putus asa, dan merasa tak pantas untuk dapat mengikuti lomba-lomba seperti itu. Tapi teringat akan wajah ibuku yang selalu datang mengunjungiku ke Pesantren dan membawakan makanan-makanan kesukaanku. Wajah ibuku yang membuat diriku bersemangat untuk dapat mencapai impianku. Suatu ketika, guruku mengadakan tes untuk mengikuti lomba English Debate Competation yang diadakan Universitas IKIP yang ada di Mataram. Dan aku sangat bahagia saat itu karena namaku disebut untuk mengikuti seleksi, yang mengikuti seleksi pada saat itu berjumlah 15 orang dari seluruh kelas yang ada di Pesantrenku, tetapi yang terpilih hanya 6 orang dan terbagi kedalam 2 tim untuk dikirim mengikuti lomba tersebut. Aku pun telah selesai mengikuti seleksi tersebut dan tinggal menunggu pengumuman.

Saat menunggu pengumuman yang berlangsung selama seminggu, aku dihadapkan oleh masalah baru yang membuat diriku menjadi drop dan rasanya ingin kehidupanku terhenti saat itu juga. Masalah muncul kembali dan ini masalah yang menurutku sangat membuat mental menjadi lemah, yaitu aku dimusuhi oleh semua teman-temanku dan sahabatku pun tak berani menegurku mereka takut jika mereka menegurku itu akan membuat diri mereka yang menegurku dimarahi oleh temanku yang lain. Hal tersebut mereka lakukan karena mereka merasa benci terhadapku. Ini terjadi karena Flashdisk yang aku miliki tertangkap oleh Munazomah ( kakak tingkat yang bertugas mengatur pondok ), sedangkan didalam Flashdisk tersebut tersimpan berbagai macam foto-foto saat kami melakukan  kursus di Pare, Jawa Timur. Foto tersebut itu adalah foto kami bersama dengan teman-teman santriwan yang mengikuti kursus tersebut, tetapi didalam peraturan Pesantren kami tidak boleh saling berhubungan dengan santriwan baik itu berdekat dekatan atau foto bersama. Hal tersebut yang diketahui oleh Munazomah, dan foto tersebut diserahkan kepada ustazah yang membuat ustazah merasa kecewa. Akhirnya teman-temanku menjadi marah dengan diriku karena akulah pemilik Flashdisk tersebut. Ketika aku masuk kamar tak seorang pun dari teman-temanku yang menegurku bahkan jika mereka melihat aku mereka langsung memalingkan wajah, dan tak berucap satu kata pun. Aku semakin merasa terpuruk dan tak tau harus berbuat apa, aku telah meminta maaf kepada sahabat maupun teman-temanku tetapi mereka tak memaafkan. Aku sadar bahwa aku salah telah membawa Flashdisk tersebut, tetapi tidak ada terbesit dalam benakku bahwa Flashdisk itu akan diambil.

Perasaanku saat itu juga hancur berkeping keping, aku tak tau apa yang harus aku lakukan agar mereka memaafkan diriku, rasanya saat itu juga ingin segera pergi dari dunia ini. Suatu hari aku melewati lorong kecil yang berada disebelah kamarku dengan membawa buku biologi berharap ingin belajar dan dapat meningkatkan prestasiku di semester I saat aku telah Aliyah, ketika aku melewati lorong tersebut seketika itu juga perasaanku gugup dan takut karena didepanku ada temanku yang lewat, kukira ia akan menegurku tapi ternyata itu hanya harapan saja, bagaimana ia akan menegurku sedangkan menoleh ke arahku saja ia tidak ingin, sepertinya ia telah membenciku. Saat itu juga aku tertunduk sedih dan hal ini yang baru aku rasakan, bertahun tahun aku tinggal di Pesantren rasanya tak pernah sesakit ini. Aku berjalan melewati kelas, tepat di pojok itu adalah kelasku, ku langkahi kakiku hingga aku duduk dibangkku tempat aku merajut ilmu setiap hari. Disana aku merasa sakit yang begitu dalam, tiba-tiba air mataku mengalir, tak dapat kubendung rasa sakit ini, mereka telah memberikan goresan luka yang amat dalam. Bagiku ini adalah sebuah pengalaman pahit yang pernah kualami, aku masih tak percaya bahwa segitukah teman-temanku membenciku, aku tak sanggup menghadapi ini, teringat keinginanku untuk bersekolah di Kairo. Keinginanku tiba-tiba hilang begitu saja, aku ingin pindah dari Pesantren ini, aku tak sanggup dan aku sudah tak kuat lagi untuk berhadapan dengan teman-temanku yang memusuhiku. Karena tanpa adanya teman dan sahabat kehidupan menjadi hampa.

Akhirnya aku memberitahu kedua orang tuaku bahwa  aku ingin pindah dan tak ingin melanjutkan sekolah di Pesantren karena keadaan yang membuatku seperti ini, ibuku awalnya tidak menyetujui dan kami memiliki perjanjian yakni apabila aku lolos dalam seleksi English Debate Competation aku akan bertahan walaupun aku dimusuhi oleh teman-temanku, tetapi jika aku tidak lolos maka aku akan pindah dari Pesantren ini, kemudian ibuku menyetujui perjanjian ini. Sampai pada akhirnya pengumuman telah disampaikan oleh guruku, dan guruku berkata bahwa aku lolos dalam seleksi ini, seketika itu juga sedih yang aku rasakan hilang begitu saja dan aku merasakan bahagia karena terpilih untuk mengikuti lomba tersebut. Tetapi keesokan harinya guruku berkata kepadaku bahwa aku harus mengikuti tes kembali dengan temanku, seketika itu juga perasaan yang tadinya senang karena telah terpilih menjadi rapuh kembali karena guruku menyuruhku untuk mengulangi tesnya. Hal tersebut yang membuat perasaanku menjadi rapuh dan rasanya seperti dipermainkan. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengikuti seleksi kembali dan aku memutuskan untuk pindah dari pesantren tersebut, entahlah apa yang akan dikatakan teman-temanku ketika aku mengambil seluruh barang-barangku dan meutuskan untuk pindah. Mereka terlihat biasa saja mungkin karena mereka telah membenciku akibat masalah tersebut.

Keesokan harinya aku memutuskan untuk pindah ke MAN 2 UNGGULAN MATARAM. Dan aku bertekad bahwa disekolah yang baru aku akan berusaha lebih gigih lagi, untuk mencapai cita-citaku. Aku mengurungkan keinginanku untuk melanjutkan sekolah ke Kairo, dan aku telah memiliki keinginan yang baru untuk dapat melanjutkan sekolah ke Universitas Indonesia jurusan Hubungan Internasional, dan sampai saat ini aku masih berjuang untuk mewujudkannya. Mengingat kejadian sewaktu di Pesantren dulu, membuat diriku banyak belajar dari pengalaman, suatu ketika teman-temanku dan sahabat-sahabatku meminta maaf kepadaku karena mereka aku telah keluar dari Pesantren dan aku tidak menyalahkan mereka, aku masih mengingat akan jasa-jasa sahabatku selama aku di Pesantren, rasanya aku ingin kembali seperti dulu tertawa bersama, berjuang bersama dan susah  dan senang bersama. Andai saja kejadian itu tidak menimpa diriku mungkin sampai saat ini aku masih berada di Pesantren. Tetapi aku dapat mengambil banyak hikmah dari pengalaman yang pernah kualami bahwa Allah S.W.T maha adil, ketika aku telah pindah dari Pesantren Allah S.W.T memberikan begitu banyak karunia yang tak ternilai harganya.

Aku sering sekali meihat teman-teman baruku yang ada di sekolahku MAN 2 UNGGULAN MATARAM, mereka sering sekali mendapatkan prestasi-prestasi yang gemilang, suatu hari tepat pada upacara bendera hari senin mereka yang memenangkan lomba dan mendapat piala dipanggil satu persatu untuk maju kedepan untuk menerima piala. Seketika itu juga teringat akan masa-masa di Pesantren seperti itu juga yang aku rasakan. Kali ini dalam benakku aku tak boleh menyerah aku harus bisa aku tidak boleh mengecewaan kedua orang tuaku terutama ibuku, aku harus bisa seperti mereka. Energi positif dalam diriku tiba-tiba saja datang dengan sendirinya, rasanya semangatku begitu kuat, akupun langsung memiliki inisiatif untuk mencari info lomba lewat internet, karena tidak mungkin aku menunggu untuk dipilih dan kali ini tidak ada peraturan untuk tidak boleh mengikuti lomba diluar sekolah, karena aku sudah manjadi siswi bukan lagi santriwati. Akhirnya sepulang sekolah aku mencari info lomba lewat internet  akhirnya aku menemukan. Lomba menulis essay yang diadakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang dengan tema Menjadi Guru Profesional. Dan 50 tulisan terbaik akan dibukukan hal tersebut yang membuat aku semangat untuk menulis, hingga pada saatnya pengumuman tak disangka namaku berada dalam urutan ke 16 begitu bahagiannya diriku, walau menjadi urutan yang ke 16 tetapi aku sangat bersyukur karena aku mendapat undangan untuk menghadiri acara yang diadakan Universitas Muhammadiyah Malang. Pada bulan mei guruku mempercayaiku untuk mengikuti lomba tingkat SMA/MA yang diadakan oleh Yayasan Jantung Sehat Provinsi Nusa Tenggara Barat, mereka mengadakan lomba tersebut karena pada hari itu memperingati hari tanpa tembakau sedunia.  Akhirnya aku mengikuti lomba tersebut dan tak disangka namaku dipanggil sebagai juara 2 betapa bahagianya diriku pada saat itu, aku menarik nafas lega karena keinginanku untuk memberikan kebahagian kepada ibuku telah tercapai. Aku merasakan bahwa dengan semangat yang kita miliki serta tekad yang kuat itu yang akan membuat keinginan kita untuk mencapai sesuatu dapat terjadi. Pengalaman pahit yang pernah kualami akan menjadi pelajaran yang sangat berarti dalam hidupku, saat ini aku memiliki banyak sahabat dan teman-teman di MAN 2 UNGGULAN MATARAM, aku percaya dan yakin bahwa setiap kejadian tersimpan hikmah yang baik didalamnya.
Aku merasakan kebahagiaan yang tak ternilai harganya ketika dapat melihat ibuku tersenyum dan meneteskan air mata, aku sangat menyangi ibuku. Sampai saat ini aku akan terus berusaha untuk dapat memberikan yang terbaik kepada kedua orang tuaku dan orang-orang disekitarku terlebih lagi kepada sekolahku MAN 2 UNGGULAN MATARAM, yang telah memberikan yang terbaik untuk siswa-siswinya. Dalam setiap goresan luka, percayalah dan yakinlah bahwa akan datang sebuah kebahagian yang akan menghapus goresan tersebut. Tetap semangat dan percaya bahwa dengan keinginan yang kuat maka cita-cita akan tercapai

Goresan Hati Yang Menjadi Kebahagiaan


“Teman yang terhasut arus waktu

Mekar mendewasa, masih kusimpan suara tawa kita

Kembalilah sahabat lawasku semarakan keheningan lubuk

Hingga masih bisa kurangkul kalian

Sosok yang mengalir ricauan hidupku

Bilakah kita menangis bersama, tegar melawan tempaan semangatmu itu”

Potongan lagu Lembayung Bali yang dinyanyikan oleh Saras Dewi, penyanyi asal Indonesia. Mengingatkanku tentang sebuah persahabatan, dimana seorang sahabat selalu ada dalam setiap suka maupun duka. Seperti kejadian dua tahun silam, yang membuat diriku diselubungi oleh berbagai macam persoalan yang menurutku persoalan yang sangat sulit untuk dipecahkan, hal ini yang membuatku ingin menceritakan pengalaman pahit yang pernah kualami dalam hidupku. Keinginanku sangatlah besar untuk dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di Universitas AL-Azhar tepatnya di Kairo, akhirnya ibuku pun menyuruhku untuk bersekolah di sebuah Pondok Pesantren yang terletak di dekat tempat tinggalku yaitu di Pondok Pesantren Kediri Lombok Barat. Ketika aku telah menjadi seorang santriwati dan mendapatkan teman-teman yang begitu banyak dari berbagai macam daerah serta pengalaman yang begitu berarti dan tak akan pernah kulupakan. Hingga aku memiliki sahabat yang begitu baik, mereka ada disaat suka maupun duka, hari demi hari kulewati dengan perasaan bahagia, bahagia karena mendapatkan seorang sahabat yang selalu ada dikala susah maupun senang. Kebetulan Pondok Pesantrenku terbilang Pondok Pesantren yang dapat mencetak prestasi-prestasi yang gemilang baik dari santriwan maupun santriwati oleh karena itu aku sangat bersemangat bersekolah di Pondok Pesantren tersebut, dan hal tersebut yang membuatku bertahan di Pondok Pesantren.

Setiap hari aku dan sahabat-sahabatku menjalani kehidupan Pesantren yang sangat disiplin, dan sangat memberikan pembelajaran yang melatih keterampilan serta kecerdasan dan ketahan fisik untuk terus semangat dalam belajar. Aku dan teman-temanku menjalani kehidupan dengan sangat bahagia walaupun terkadang kami memiliki pendapat yang berbeda-beda, tetapi hal itu tidak membuat kami terpisah. Teringat dalam benakku ketika kami tertawa bersama, bercanda hingga kami menangis bersama, dan berjuang bersama sama untuk menghadapi Ujian Nasional 2009 pada saat itu aku masih Tsanawiyah atau setingkat dengan SMP. Ketika Ujian Nasional akan berlangsung kami belajar dengan sangat bersemangat berharap lulus dengan nilai yang memuaskan. Kami belajar hingga larut malam, seperti biasanya musholla adalah tempat andalan kami para santriwati untuk belajar  bersama, sampai pada akhirnya kami telah selesai menghadapi Ujian Nasional dan akhirnya lulus dan akan melanjutkan ke tingkat Aliyah atau SMA. Tetapi didalam Pondok Pesantrenku semua santriwan maupun santriwati harus dapat menyelesaikan sekolah hingga 6 tahun dimulai dari Tsanawiyah hingga selesai Aliyah, teringat tentang keinginanku untuk melanjutkan sekolah di Kairo. Hal tersebut yang membuat tetap semangat, untuk bertahan bersekolah di Pondok Pesantren tersebut.

Ketika aku telah lulus dan menjadi santriwati Aliyah atau setingkat SMA, disanalah cobaan demi cobaan menimpa diriku, yang terkadang membuat diriku tak sanggup untuk melewati itu semua. Keinginanku untuk mengikuti berbagai macam mata lomba yang diadakan diluar sekolah, terhalang oleh adanya peraturan yang telah ditentukan di sekolah itu, aku menyadari bahwa aku bukanlah orang yang pantas untuk mengikuti lomba tersebut, karena di Pesantrenku itu masih banyak orang-orang yang lebih baik dibanding diriku. Rasa kecewa, sedih sering aku alami, ketika suatu hari guruku hanya memilih orang-orang yang menurutnya pantas untuk mengikuti lomba tersebut. Ketika itu guruku berkata “ Yang mendapat juara 1,2,3 ikut olimpiade MIPA” kemudian teman-temanku yang sudah terpilih mereka sangat bahagia. Terbesit dalam benakku, kapan aku bisa seperti mereka terpilih untuk mengikuti lomba, sedangkan jika aku mengusulkan ingin mengikuti lomba diluar sekolah, itu akan melanggar peraturan yang telah ditetapkan Pesantren.

Sore hari, langit yang cerah dilengkapi matahari yang akan tenggelam aku duduk dibawah pohon jambu di lantai dua, dengan kursi yang begitu rapuh termakan usia. Membayangkan  diriku kelak dapat seperti teman-temanku yang mendapat juara. Terkadang aku merasa sangat putus asa, dan merasa tak pantas untuk dapat mengikuti lomba-lomba seperti itu. Tapi teringat akan wajah ibuku yang selalu datang mengunjungiku ke Pesantren dan membawakan makanan-makanan kesukaanku. Wajah ibuku yang membuat diriku bersemangat untuk dapat mencapai impianku. Suatu ketika, guruku mengadakan tes untuk mengikuti lomba English Debate Competation yang diadakan Universitas IKIP yang ada di Mataram. Dan aku sangat bahagia saat itu karena namaku disebut untuk mengikuti seleksi, yang mengikuti seleksi pada saat itu berjumlah 15 orang dari seluruh kelas yang ada di Pesantrenku, tetapi yang terpilih hanya 6 orang dan terbagi kedalam 2 tim untuk dikirim mengikuti lomba tersebut. Aku pun telah selesai mengikuti seleksi tersebut dan tinggal menunggu pengumuman.

Saat menunggu pengumuman yang berlangsung selama seminggu, aku dihadapkan oleh masalah baru yang membuat diriku menjadi drop dan rasanya ingin kehidupanku terhenti saat itu juga. Masalah muncul kembali dan ini masalah yang menurutku sangat membuat mental menjadi lemah, yaitu aku dimusuhi oleh semua teman-temanku dan sahabatku pun tak berani menegurku mereka takut jika mereka menegurku itu akan membuat diri mereka yang menegurku dimarahi oleh temanku yang lain. Hal tersebut mereka lakukan karena mereka merasa benci terhadapku. Ini terjadi karena Flashdisk yang aku miliki tertangkap oleh Munazomah ( kakak tingkat yang bertugas mengatur pondok ), sedangkan didalam Flashdisk tersebut tersimpan berbagai macam foto-foto saat kami melakukan  kursus di Pare, Jawa Timur. Foto tersebut itu adalah foto kami bersama dengan teman-teman santriwan yang mengikuti kursus tersebut, tetapi didalam peraturan Pesantren kami tidak boleh saling berhubungan dengan santriwan baik itu berdekat dekatan atau foto bersama. Hal tersebut yang diketahui oleh Munazomah, dan foto tersebut diserahkan kepada ustazah yang membuat ustazah merasa kecewa. Akhirnya teman-temanku menjadi marah dengan diriku karena akulah pemilik Flashdisk tersebut. Ketika aku masuk kamar tak seorang pun dari teman-temanku yang menegurku bahkan jika mereka melihat aku mereka langsung memalingkan wajah, dan tak berucap satu kata pun. Aku semakin merasa terpuruk dan tak tau harus berbuat apa, aku telah meminta maaf kepada sahabat maupun teman-temanku tetapi mereka tak memaafkan. Aku sadar bahwa aku salah telah membawa Flashdisk tersebut, tetapi tidak ada terbesit dalam benakku bahwa Flashdisk itu akan diambil.

Perasaanku saat itu juga hancur berkeping keping, aku tak tau apa yang harus aku lakukan agar mereka memaafkan diriku, rasanya saat itu juga ingin segera pergi dari dunia ini. Suatu hari aku melewati lorong kecil yang berada disebelah kamarku dengan membawa buku biologi berharap ingin belajar dan dapat meningkatkan prestasiku di semester I saat aku telah Aliyah, ketika aku melewati lorong tersebut seketika itu juga perasaanku gugup dan takut karena didepanku ada temanku yang lewat, kukira ia akan menegurku tapi ternyata itu hanya harapan saja, bagaimana ia akan menegurku sedangkan menoleh ke arahku saja ia tidak ingin, sepertinya ia telah membenciku. Saat itu juga aku tertunduk sedih dan hal ini yang baru aku rasakan, bertahun tahun aku tinggal di Pesantren rasanya tak pernah sesakit ini. Aku berjalan melewati kelas, tepat di pojok itu adalah kelasku, ku langkahi kakiku hingga aku duduk dibangkku tempat aku merajut ilmu setiap hari. Disana aku merasa sakit yang begitu dalam, tiba-tiba air mataku mengalir, tak dapat kubendung rasa sakit ini, mereka telah memberikan goresan luka yang amat dalam. Bagiku ini adalah sebuah pengalaman pahit yang pernah kualami, aku masih tak percaya bahwa segitukah teman-temanku membenciku, aku tak sanggup menghadapi ini, teringat keinginanku untuk bersekolah di Kairo. Keinginanku tiba-tiba hilang begitu saja, aku ingin pindah dari Pesantren ini, aku tak sanggup dan aku sudah tak kuat lagi untuk berhadapan dengan teman-temanku yang memusuhiku. Karena tanpa adanya teman dan sahabat kehidupan menjadi hampa.

Akhirnya aku memberitahu kedua orang tuaku bahwa  aku ingin pindah dan tak ingin melanjutkan sekolah di Pesantren karena keadaan yang membuatku seperti ini, ibuku awalnya tidak menyetujui dan kami memiliki perjanjian yakni apabila aku lolos dalam seleksi English Debate Competation aku akan bertahan walaupun aku dimusuhi oleh teman-temanku, tetapi jika aku tidak lolos maka aku akan pindah dari Pesantren ini, kemudian ibuku menyetujui perjanjian ini. Sampai pada akhirnya pengumuman telah disampaikan oleh guruku, dan guruku berkata bahwa aku lolos dalam seleksi ini, seketika itu juga sedih yang aku rasakan hilang begitu saja dan aku merasakan bahagia karena terpilih untuk mengikuti lomba tersebut. Tetapi keesokan harinya guruku berkata kepadaku bahwa aku harus mengikuti tes kembali dengan temanku, seketika itu juga perasaan yang tadinya senang karena telah terpilih menjadi rapuh kembali karena guruku menyuruhku untuk mengulangi tesnya. Hal tersebut yang membuat perasaanku menjadi rapuh dan rasanya seperti dipermainkan. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengikuti seleksi kembali dan aku memutuskan untuk pindah dari pesantren tersebut, entahlah apa yang akan dikatakan teman-temanku ketika aku mengambil seluruh barang-barangku dan meutuskan untuk pindah. Mereka terlihat biasa saja mungkin karena mereka telah membenciku akibat masalah tersebut.

Keesokan harinya aku memutuskan untuk pindah ke MAN 2 UNGGULAN MATARAM. Dan aku bertekad bahwa disekolah yang baru aku akan berusaha lebih gigih lagi, untuk mencapai cita-citaku. Aku mengurungkan keinginanku untuk melanjutkan sekolah ke Kairo, dan aku telah memiliki keinginan yang baru untuk dapat melanjutkan sekolah ke Universitas Indonesia jurusan Hubungan Internasional, dan sampai saat ini aku masih berjuang untuk mewujudkannya. Mengingat kejadian sewaktu di Pesantren dulu, membuat diriku banyak belajar dari pengalaman, suatu ketika teman-temanku dan sahabat-sahabatku meminta maaf kepadaku karena mereka aku telah keluar dari Pesantren dan aku tidak menyalahkan mereka, aku masih mengingat akan jasa-jasa sahabatku selama aku di Pesantren, rasanya aku ingin kembali seperti dulu tertawa bersama, berjuang bersama dan susah  dan senang bersama. Andai saja kejadian itu tidak menimpa diriku mungkin sampai saat ini aku masih berada di Pesantren. Tetapi aku dapat mengambil banyak hikmah dari pengalaman yang pernah kualami bahwa Allah S.W.T maha adil, ketika aku telah pindah dari Pesantren Allah S.W.T memberikan begitu banyak karunia yang tak ternilai harganya.

Aku sering sekali meihat teman-teman baruku yang ada di sekolahku MAN 2 UNGGULAN MATARAM, mereka sering sekali mendapatkan prestasi-prestasi yang gemilang, suatu hari tepat pada upacara bendera hari senin mereka yang memenangkan lomba dan mendapat piala dipanggil satu persatu untuk maju kedepan untuk menerima piala. Seketika itu juga teringat akan masa-masa di Pesantren seperti itu juga yang aku rasakan. Kali ini dalam benakku aku tak boleh menyerah aku harus bisa aku tidak boleh mengecewaan kedua orang tuaku terutama ibuku, aku harus bisa seperti mereka. Energi positif dalam diriku tiba-tiba saja datang dengan sendirinya, rasanya semangatku begitu kuat, akupun langsung memiliki inisiatif untuk mencari info lomba lewat internet, karena tidak mungkin aku menunggu untuk dipilih dan kali ini tidak ada peraturan untuk tidak boleh mengikuti lomba diluar sekolah, karena aku sudah manjadi siswi bukan lagi santriwati. Akhirnya sepulang sekolah aku mencari info lomba lewat internet  akhirnya aku menemukan. Lomba menulis essay yang diadakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang dengan tema Menjadi Guru Profesional. Dan 50 tulisan terbaik akan dibukukan hal tersebut yang membuat aku semangat untuk menulis, hingga pada saatnya pengumuman tak disangka namaku berada dalam urutan ke 16 begitu bahagiannya diriku, walau menjadi urutan yang ke 16 tetapi aku sangat bersyukur karena aku mendapat undangan untuk menghadiri acara yang diadakan Universitas Muhammadiyah Malang. Pada bulan mei guruku mempercayaiku untuk mengikuti lomba tingkat SMA/MA yang diadakan oleh Yayasan Jantung Sehat Provinsi Nusa Tenggara Barat, mereka mengadakan lomba tersebut karena pada hari itu memperingati hari tanpa tembakau sedunia.  Akhirnya aku mengikuti lomba tersebut dan tak disangka namaku dipanggil sebagai juara 2 betapa bahagianya diriku pada saat itu, aku menarik nafas lega karena keinginanku untuk memberikan kebahagian kepada ibuku telah tercapai. Aku merasakan bahwa dengan semangat yang kita miliki serta tekad yang kuat itu yang akan membuat keinginan kita untuk mencapai sesuatu dapat terjadi. Pengalaman pahit yang pernah kualami akan menjadi pelajaran yang sangat berarti dalam hidupku, saat ini aku memiliki banyak sahabat dan teman-teman di MAN 2 UNGGULAN MATARAM, aku percaya dan yakin bahwa setiap kejadian tersimpan hikmah yang baik didalamnya.
Aku merasakan kebahagiaan yang tak ternilai harganya ketika dapat melihat ibuku tersenyum dan meneteskan air mata, aku sangat menyangi ibuku. Sampai saat ini aku akan terus berusaha untuk dapat memberikan yang terbaik kepada kedua orang tuaku dan orang-orang disekitarku terlebih lagi kepada sekolahku MAN 2 UNGGULAN MATARAM, yang telah memberikan yang terbaik untuk siswa-siswinya. Dalam setiap goresan luka, percayalah dan yakinlah bahwa akan datang sebuah kebahagian yang akan menghapus goresan tersebut. Tetap semangat dan percaya bahwa dengan keinginan yang kuat maka cita-cita akan tercapai

Wednesday, January 30, 2013

UPDATE PESERTA EVENT FLASH FICTION : CHOCOLATE? I LOVE IT



1.       Choco love_Rere Z
2.       Coklat itu Tara_Fitri Setiowati
3.       Coklat Cinta_Ferry Willi Riawan 
4.       Kenapa Harus Coklat_ Ade Juni
5.       King of Late and Queen of Chocolate_Lita Maisyarah Dechy
6.       If Chocolate Can Talk_Yoan Puspita Sari
7.       Dua Batang Cokelat untuk Sepotong Cinta_Rezita Agnesia Siregar
8.       Coklat itu manis_Shintany Rochmatil Widyananda
9.       Butiran coklat_Shintany Rochmatil Widyananda
10.   Feel Like Chocolate_Nimas Masrullail
11.   Ada cinta di Balik Coklat yang terabaikan_Dian Tria Yunita
12.   Cokelat dari Egha_Arinda Shafa
13.   Chocolate has a story about us_Venda Intan Pratama
14.   Obat patah hati termanis, coklat_El Ka Nisa Mahdi
15.   Cokelatmu ada di hatiku_Nadya Irna Lestari
16.   Hot Chocolate, Memory of You_Anisa Nadia Idham
17.   Kenangan itu dari (CEO dan Coklatnya)_Adinda Iik Zakiah
18.   KIta, Cokelat dan Jerawat_Julia Hartini
19.   My chocolate_Novita hariyani
20.   Hot Chocolate_Mpit Chan
21.   Senyuman sepotong coklat_Gemilang Halimatussadiah
22.   Dan mentaripun Berwarna Coklat_Rina 'Na' Kwartiana
23.   Gadis-Gadis Cokelat_Khair Khairuddin Lubis
24.   My Love Story With Chocolate_Windi Adewi
25.   Chocolate, I Need You!!_Farikha Amilahaq
26.   Kado Merah Jambu_Nawank Wulan
27.   Coklat dan Pria Misterius_Nurfadhilah Bahar
28.   Coklat Pungutan_Mpit Tivani
29.   Chocolate is Happiness_El Ka Nisa Mahdi
30.   Sebatang Coklat Untuk Dian_Altifani Rizky Hayyu
31.   Sekotak Cokelat Manis_Urai Rizki Abri Nova
32.   Hanyalah chocolate_anisatun Aminah
33.   Kau dan Coklatmu di Balik Hujan_Titian Berkat Gea
34.   Kedai Coklat_Aisa N Khumairah
35.   Aku, kamu dan cokelat_Guntoro
36.   Asal makan_Rahmat Sahri Ramadani
37.   Derai Hati Miss Icha_Hasan Asyhari
38.   Noda Coklat Miss Icha_Hasan Asyhari
39.   Prince and princess of Chocolate_Erina Wulandari Br Purba
40.   Hitam-hitam si Coklat Manis_JEA
41.   The Charred Chocolate_Laila Muttamimah
42.   Chocolate O Destino de Amor_Salsabillah
43.   Hot Choco ala Jo-Je_Jo-Je
44.   Cokelat untuk Sang Aktivis_Cut Irna Setiawati
45.   The Secret of Facebook_Septiani Siti Lathifah
46.   Call Me_Cynthia E.A.S
47.   Cokelat Coli_Indriani Nur Setia(Aissa Unun)
48.   Cokelat Jomblo_Erwin Setiawan
49.   Semua Karena Cokelat_Nurwita Budiarti
50.   Because of Cheese Crunchy Chocolate_Paresma Elvigro
51.   Because My Favorite Chocolate_Rengganis
52.   Aku, Cokelat dan Leukimia_Okta Nursanti
53.   Manisnya Chocolate Semanis Cintaku_Linda Erlina
54.   Suratan Coklat yang Abadi_Lutfiya Al Qarani
55.   Cokelat Terakhir_Junaidi Barcelonitas
56.   Setoples Kebahagiaan_Siti Jubaidah
57.   Baru Kurasa Manisnya Coklat_Amel Sanila

Tuesday, January 29, 2013

KECEWA

Kata ini selalu saja dalam suasana hati sedih, seperti yang kurasakan saat ini merasakan kesedihan yang paling dalam ketika merasakan sesuatu terjadi dalam sebuah ikatan persahabatan. Persahabatan yang kami bangun selama 3 tahun ini, berujung hanya dalam sebuah kesia-siaan. Aku tau mereka lebih memenginginkanya, aku tau aku adalah orang yang tak pantas untuk disenangi. Tapi aku juga punya perasaan, setiap manusia punya perasaan. Apakah kalian tak pernah berfikir tentang sebuah perasaan??? apa kalian hanya bisa menyakiti perasaan orang saja tanpa mengetahui apakah orang tersebut pantas atau tidak untuk disakiti??? Kalian mengatakan kalian sahabat sejati??? Mana buktinyaa??? Manaa???? .......
Saya sayang sama kalian sayang tapi apakah ini semua yang terjadi...
Mungkin hari ini hatiku sangat tersakiti akan sebuah hal yang menurut kalian tak penting, namun itu adalah hal terpenting dalam hidupku. Aku bingung dengan semua ini, Ingatkah sudah berapa lama kita bersama, kita sudah bisa saling mengerti satu sama lain. "kita semua saudara" kata itu yang sering kita ucapkan tapi apakah kita pernah melakukan hal itu dengan sepenuh hati. Dikala teman sedih apa kita, bisa memperhatikannya. Dikala dia menangis apa kalian pernah mengusap air mata di pipinya, mungkin bagi sebagian orang pernah melakukan hal itu namun aku tak dapat mengira bahwa yang kita lakukan dengan sepenuh hati atau tidak. Bukankah slogan kita selalu mengatakan " Senang bersama, susah bersama" tapi hal itu sangat jarang ku rasakan di dunia ini. Itu hanya sebuah slogan semata yang tak kan pernah terwujud. Dari bermilyaran orang di dunia ini mungkin hanya 20% yang melakukan seperti itu. Tapi untuk aku "TIDAK". Tidak pernah aku tak pernah merasakan suatu ketulusan yang ada, mungkin terkadang ada dalam benakku namun terkadang aku tak mengaggapnya ada. Aku yakin dan percaya semua itu hanya ungkapan semata tanpa pernah mewujudkannya. SAKIT saat ini yang aku rasakan, namun tak selamanya aku harus merasakannya, karna aku percaya dan yakin suatu saat nanti ini akan berubah menjadi baik. Namun tidak untuk sekarang, ini terlalu sakit bagiku mungkin saja melebihi aku sakit perut. Ini rasa yang baru pertama aku alami oleh seseorang yang disebut dengan "SAHABAT". Aku tak menyalahkannya, aku tak membencinya namun aku KECEWA. Kamu telah membuat aku merasa terpuruk dalam sebuah kesendirian dalam sebuah kesedihan dimana tak ada seorang pun yang menghiraukannya. Aku yakin itu hanya sebuah SLOGAN untuk menyenangkan hati saja. Pada dasarnya tak ada di dunia orang yang benar-benar TULUS TAK ADA. Kecuali ibukku, semua sama saja ,,, tak ada yang perlu dibanggakan tak ada yang perlu dibahagiakan. Semua sama saja, memiliki urusan masing-masing YOU JUST TREAR YOUR SELF .....

Hal yang kita perlu tau bahwasanya mencari teman ataupun sahabat yang sejati itu sangat sulit bahkan harus keliling DUNIA baru deh ketemu.....kalo ketemu ya syukur .... kalau enggak berarti emank gak ada yang setia di dunia ini.


 
Kata sahabat memang perlu menjadi suatu landasan dalam kehidupan, namun tak selamanya ia menjadi baik terkadang ia akan memberikan sakit yang luar biasa. Inikah ARTI SAHABAT???

MEKANIKA


Seberkas cahaya itu nampak

Terselip suara yang mengiringinya

Hembusan angin tak membuat berhenti

Panjang gelombang tak menentukan

                                                Hidup adalah perjuangan

                                                Lika liku selalu ada hingga nafas terhenti

                                                Layaknya roda yang terus berputar

                                                Tegar dalam menghadapi hidup

Gerakan demi gerakan akan terus berjalan

Mekanika kehidupan tak terlepas dari manusia

Mencoba mencari keberhasilan

Ditengah hingar bingar orang yang memerlukan

                                                Mekanika akan terus berjalan

                                                Hingga tak tersadar waktu yang akan memakan

                                                Bergemuruh dalam perang

                                                Mendapatkan kejayaan